Secara ilmiah, gerhana Bulan ialah momen ketika matahari, Bumi, dan Bulan berada di posisi sejajar. Tapi seperti apa, ya, umat manusia dan setiap budayanya memahami gerhana Bulan?
Gerhana Bulan terjadi pada saat Bumi melintas di antara matahari dan Bulan. Akibat melewati zona gelap bayangan Bumi (umbra), cahaya matahari terhalang dan gagal mencapai permukaan Bulan. Apabila teriring cuaca cerah, Bulan akan terlihat berwarna merah dan lebih gelap, seperti sedang sakit, atau disakiti.
Oleh sebagian besar cerita rakyat, gerhana dipahami sebagai keadaan di mana objek-objek antariksa sedang menerima gangguan, mengalami perusakan, atau pertanda terjadinya peristiwa-peristiwa signifikan, entah baik atau buruk. Tentu bukan perihal mengejutkan, sebab ide-ide soal pengaruh benda-benda langit terhadap kehidupan manusia memang masih mengakar kuat.
Lalu, bagaimana mitos, legenda, dan kepercayaan di peradaban manusia selama ini memahami gerhana Bulan?

Kala Rau Terjebak Cinta
Oleh kebudayaan Bali, gerhana Bulan erat hadirnya bersama legenda Kala Rau. Konon ketika cintanya ditolak oleh Dewi Ratih (Dewi Bulan), raksasa menyeramkan di Balidwipa itu merespon dengan menyerang Wisnuloka, tempat perlindungan Dewi Ratih.
Tak ingin kerajaannya hancur dan dewa-dewi lainnya terluka, Dewa Wisnu lantas membagikan tirta amerta (air kehidupan). Sialnya, Kala Rau, yang sempat menyamar sebagai Dewa Kuwera, ikut menikmati air kehidupan itu.
Menyadari bahwa Dewa Kuwera sebenarnya adalah Kala Rau, Dewa Wisnu segera memanah si leher raksasa. Tubuh Kala Rau lantas terbelah dua, badannya terjun ke Bumi menjadi lumpang kayu panjang dan kepalanya melayang-melayang di angkasa. Tapi, karena ia meminum tirta amerta, kepala Kala Rau kini terus hidup menanti purnama.
Pada saat purnama, Kala Rau akan memakan Dewi Ratih yang mempesona. Ia berharap jika cintanya sudah masuk ke perut, maka mereka menyatu abadi.
Untungnya, angan cuma angan saja. Dewi Ratih muncul kembali ke angkasa sedikit demi sedikit. Ia selalu terlepas dari obsesi Kala Rau, dan menerangi gelap malam dengan indah cahayanya.
Suku Inca vs. Jaguar Raksasa Antariksa
Serupa cerita rakyat Bali, banyak peradaban lain memahami gerhana Bulan melalui kisah-kisah jahat dari makhluk-makhluk mengerikan. Penduduk Inca di masa lalu menafsirkan warna merah gerhana akibat seekor jaguar berukuran besar sedang melahap Bulan.
Mereka yakin setelah Bulan dilahap habis, jaguar itu akan mengarahkan perhatiannya ke Bumi. Oleh demikan, penduduk Inca berusaha menakut-nakuti jaguar raksasa menggunakan tombak, teriakan keras nan kasar, serta gonggongan anjing.
Tipu Muslihat Raja Bayangan Mesopotamia
Sementara di Mesopotamia kuno, gerhana Bulan dianggap serangan langsung kepada raja. Mengandalkan kemampuan akurat memprediksi waktu terjadinya gerhana Bulan, kerajaan melindungi keselamatan penguasanya menggunakan sosok bayangan.
Sesaat sebelum dan selama gerhana Bulan berlangsung, raja tiruan akan berpura-pura memimpin kerajaan, sementara raja sebenarnya bersembunyi di ruang aman hingga langit malam kembali terang.
Healing, Healing, Merawat Feeling
Meski sering berasosiasi dengan pesakitan, gerhana Bulan tidak melulu soal cerita rakyat yang menegangkan. Oleh beberapa peradaban lain, ia justru dipahami sebagai tanda-tanda tepat bagi manusia untuk memulihkan diri.
Suku Batammaliba di Togo dan Benin percaya jika gerhana Bulan terjadi pada saat matahari dan Bulan sedang berselisih paham. Mereka kemudian akan berpura-pura membujuk keduanya untuk menemukan resolusi — sampai pada saatnya Bulan kembali terang benderang.
Mengacu kepada kepercayaan itu, suku Batammaliba percaya kalau gerhana Bulan ialah momen tepat untuk menyelesaikan konflik apa saja, baik itu dengan orang lain atau diri sendiri.
Lainnya lagi, suku Hupa dan Luiseño dari California menginterpretasikan gerhana Bulan sama halnya seperti Bulan yang sedang terluka hebat. Selama gerhana berlangsung, dia membutuhkan bantuan untuk proses penyembuhan, baik oleh “istri-istri Bulan” atau anggota suku. Suku Luiseño, misalnya, akan bernyanyi dan menyuarakan syair-syair penyembuhan ke arah Bulan yang gelap di angkasa.
Nah, pertanyaannya sekarang, kamu mau menyembuhkan apa saat gerhana Bulan nanti?
